Senin, 30 Maret 2015
teori sistem dunia
Refrensi : Carlos A. MartÃnez-Vela.
teori ketergantungan
Contoh :
Wati Nilamsari, M.Si. Buku Ajar Sosiologi Pembangunan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, 2007
Senin, 23 Maret 2015
Teori Perbandingan Sosial
Pada tahun 1950, Festinger diberi hibah dari Divisi Ilmu Perilaku Ford Foundation. Hibah ini merupakan bagian dari program penelitian dari Laboratorium Penelitian dalam Hubungan Sosial, yang mengembangkan Teori Perbandingan Sosial (Festinger, 1954). Perkembangan berengsel perbandingan sosial di beberapa sosio-psikologis proses, dan dalam rangka menciptakan teori ini, Festinger dipengaruhi oleh penelitian yang berfokus pada komunikasi sosial (Festinger, 1950), dinamika kelompok, kesesuaian dan efek autokinetic (Sherif, 1936) , perilaku compliant, kelompok sosial, kemandirian dan ketergantungan dalam menanggapi mayoritas bulat (Asch, 1956) dan tingkat aspirasi (Festinger, 1942; Kruglanski & Mayseless, 1990). Dalam artikelnya, ia bersumber berbagai eksperimen dengan anak-anak dan orang dewasa, namun, banyak teorinya didasarkan pada penelitian sendiri (Festinger, 1954). Setelah kerja suplemen 1966 oleh Pettigrew, Brickman, dan Wheeler dan hubungan perbandingan sosial untuk Teori Atribusi, bunga menghidupkan kembali dalam proses perbandingan. Ketika pemahaman dasar perbandingan sosial, sangat penting untuk memahami bahwa tidak ada proses berpikir yang menciptakan teori, melainkan, kompilasi percobaan, bukti-bukti sejarah dan pemikiran filosofis. Sementara Festinger adalah psikolog sosial pertama yang koin “Perbandingan Sosial” istilah, konsep umum tidak dapat diklaim secara eksklusif oleh dia (Suls & Wheeler, 2000). Padahal, asal-usul teori ini dapat tanggal kembali ke Aristoteles dan Plato. Plato berbicara tentang perbandingan pemahaman diri dan standar mutlak. Aristoteles prihatin dengan perbandingan antara orang-orang. Kemudian, filsuf seperti Kant, Marx dan Rousseau berbicara pada penalaran moral dan kesenjangan sosial. (Suls, Martin, & Wheeler, 2002).
Dalam teori awal, Festinger (1954) hipotesis beberapa hal. Pertama, ia menyatakan bahwa individu termotivasi untuk mendapatkan evaluasi yang akurat dari diri mereka sendiri dengan memeriksa pendapat mereka dan kemampuan dibandingkan dengan orang lain. Perbandingan tersebut memberikan patokan obyektif terhadap mana seorang individu dapat membandingkan diri dalam domain yang relevan, memberikan rasa validitas dan kejelasan kognitif. Ia berhipotesis bahwa orang-orang yang mirip dengan individu yang sangat baik dalam menghasilkan evaluasi akurat tentang kemampuan dan opini (Suls, Martin, & Wheeler, 2002).
Untuk ini, ia menambahkan bahwa kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan beberapa orang tertentu lainnya menurun sebagai perbedaan antara pendapat mereka dan kemampuan menjadi lebih berbeda. Ia juga memiliki hipotesis bahwa ada drive ke atas untuk mencapai kemampuan yang lebih besar (Festinger, 1954). Dia lebih lanjut berteori bahwa membandingkan diri dengan orang lain menyebabkan tekanan keseragaman. Jika perbedaan timbul antara evaluator dan kelompok pembanding ada kecenderungan untuk mengurangi perbedaan itu dengan baik mencoba untuk membujuk orang lain, atau mengubah pandangan pribadi mereka untuk mencapai keseragaman. Namun, pentingnya, relevansi dan daya tarik kepada kelompok pembanding yang mempengaruhi motivasi asli untuk perbandingan, menengahi tekanan terhadap keseragaman (Festinger, 1954).
teori keseimbangan heider
teori disonansi kognitif
- Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya.Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi.
- Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi biologis.Teori ini merujuk pada fakta-fakta harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.
- Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur.Teori ini menekankan seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut.
- Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usahauntuk mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.
Teori Pertukaran Sosial
Teori Pertukaran Sosial adalah salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain, kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu. Setelah seseorang menentukan keseimbangannya, ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan atau tidak sama sekali.
Teori pertukaran sosial ini juga digunakan untuk menjelaskan berbagai penelitian mengenai sikap dan perilaku dalam ekonomi (Theory of Economic Behavior). Selain itu, teori ini juga digunakan dalam penelitian komunikasi, misalnya dalam konteks komunikasi interpersonal, kelompok dan organisasi. Oleh karena itu, teori pertukaran sosial ini, selain menjelaskan mengenai sikap dalam ekonomi, juga menjelaskan mengenai hubungan dalam komunikasi.
Thibault dan Kelley menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut, “asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini (Rahmat, 2002: 121).
- Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Buat orang kaya mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang. Buat si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasi kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.
- Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.
- Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.
- Tingkat perbandinganmenunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Bila seorang gadis pernah berhubungan dengan kawan pria dalam hubungan yang bahagia, ia akan mengukur hubungan interpersonalnya dengan kawan pria lain berdasarkan pengalamannya dengan kawan pria terdahulu. Makin bahagia ia pada hubungan interpersonal sebelumnya, makin tinggi tingkat perbandingannya, berarti makin sukar ia memperoleh hubungan interpersonal yang memuaskan.
Meskipun demikian, ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan, terjadi pada diri manusia begitu saja tanpa perlu diatur dan dihitung sedemikian rupa. Sebagai manusia yang normal, tentu dengan sendirinya bisa menentukan apakah hubungannya dengan seseorang sehat atau tidak, perlukah dilanjutkan atau tidak demi masa depan, dan ini terjadi secara alamiah, wajar, dan begitu saja.
- Asumsi Dasar
Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam teori ini adalah:
- Individu yang terlibat dalan interkasi akan memaksimalkan rewards
- Individu memiliki akses untuk informasi mengenai sosial, ekonomi, dan aspek-aspek psikologi dari interkasi yang mengizinkan mereka untuk mempertimbangkan berbagai alternatif.
- Individu bersifat rasional dan memperhitungkan kemungkinan terbaik untuk bersaing dalam situasi menguntungkan.
- Individu berorientasi pada tujuan dalam system kompetisi bebas.
- Pertukaran norma budaya.
Hubungan suami istri melalui sebuah ikatan pernikahan. Pola-pola perilaku dalam sebuah pernikahan, hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.