Minggu, 17 Mei 2015

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Yang saya ingin jelaskan adalah tentang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun.
AIMI pusat berada di Jakarta. Tapi hal ini bukan halangan bagi Anda yang berada di luar daerah dan ingin bergabung bersama AIMI. Saat ini cabang AIMI telah menjangkau banyak daerah diantaranya cabang Jawa Barat yang berdiri pada tanggal 5 Juni 2010, Cabang jawa Tengah yang didirikan pada tanggal 19 Desember 2010, AIMI cabang Jawa Timur yang didirikan pada tanggal 8 Agustus 2010, AIMI cabang Sumatera Utara yang didirikan pada tanggal 20 November 2011, AIMI cabang Sulawesi Utara pada tanggal 11 Desember 2011 dan AIMI cabang Jogjakarta pada 10 Juni 2012.
Mengapa dibuat seperti ini? karena, angka wanita yang memilih untuk tidak menyusui bayinya karena berbagai alasan semakin meningkat. Hal ini patut disayangkan sebab pemberian ASI sangat baik dalam menanggulangi gizi buruk juga angka kematian bayi di bawah usia 28 hari yang marak terjadi khususnya di Negara berkembang termasuk Indonesia.
AIMI sangat menyarankan agar para calon orangtua tau tentang AIMI karena para calon orangtua mempunyai bekal cukup untuk persiapan menyusui. Para orang tua harus mengetahui sebagai berikut:
(a) Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini yang tepat
(b) Manfaat Menyusui dan Resiko Formula
(c) Dukungan Pemberian ASI dan Peraturan Perundang-undangan
(d) Mengenal anatomi payudara, posisi dan pelekatan menyusui yang efektif
(e) Hari-hari Pertama Kelahiran Bayi
(f) Kunci keberhasilan menyusui
(g) Persiapan Kembali Berkegiatan
(h) Teknik memerah, menyimpan dan  memberikan ASI
(i) Tips Meningkatkan Produksi ASI
(j) Problematika puting dan payudara
(k) Tantangan Menyusui
(l) Menyapih dengan kasih



Senin, 30 Maret 2015

teori sistem dunia

Teori sistem dunia merupakan sebuah pembagian kerja secara teritorial dalam produksi, pertukaran barang dan bahan mentah.Pembagian kerja mengacu pada kekuatan dan hubungan produksi dalam ekonomi dunia secara keseluruhan.Pembagian kerja ini menyebabkan adanya dua daerah yang saling bergantung, yaitu negara inti dan negara pinggiran. Secara geografi dan budaya kedua negara tersebut sama sekali berbeda, satu fokus pada padat modal dan satu lagi pada padat karya.Sementara itu, negara semi periferi bertindak sebagai zona penyangga antara inti dan pinggiran serta memiliki campuran jenis kegiatan yang ada di negara inti dan periferi.



Refrensi : Carlos A. Martínez-Vela.

teori ketergantungan

Teori Ketergantungan atau dikenal teori depedensi (bahasa inggrisDependency Theory) adalah salah satu teori yang melihat permasaalahan pembangunan dari sudut Negara Dunia Ketiga.Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi negara–negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara–negara lain, di mana negara–negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Aspek penting dalam kajian sosiologi adalah adanya pola ketergantungan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya dalam kehidupan berbangsa di dunia.Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili "suara negara-negara pinggiran" untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju. 
Contoh : 





Wati Nilamsari, M.Si. Buku Ajar Sosiologi Pembangunan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, 2007

Senin, 23 Maret 2015

Teori Perbandingan Sosial

Teori perbandingan sosial pada awalnya diusulkan oleh Leon Festinger psikolog sosial pada tahun 1954. Teori perbandingan sosial yang berpusat pada keyakinan bahwa ada dorongan dalam diri seseorang untuk memperoleh akurat evaluasi diri. Teori ini menjelaskan bagaimana individu mengevaluasi pendapat mereka sendiri dan kemampuan dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain untuk mengurangi ketidakpastian dalam domain, dan belajar bagaimana untuk mendefinisikan diri. Setelah teori awal, penelitian mulai fokus pada perbandingan sosial sebagai cara peningkatan diri (Gruder, 1971; Wills, 1981), memperkenalkan konsep perbandingan bawah dan ke atas dan memperluas motivasi perbandingan sosial (misalnya Schachter, 1959).

Pada tahun 1950, Festinger diberi hibah dari Divisi Ilmu Perilaku Ford Foundation. Hibah ini merupakan bagian dari program penelitian dari Laboratorium Penelitian dalam Hubungan Sosial, yang mengembangkan Teori Perbandingan Sosial (Festinger, 1954). Perkembangan berengsel perbandingan sosial di beberapa sosio-psikologis proses, dan dalam rangka menciptakan teori ini, Festinger dipengaruhi oleh penelitian yang berfokus pada komunikasi sosial (Festinger, 1950), dinamika kelompok, kesesuaian dan efek autokinetic (Sherif, 1936) , perilaku compliant, kelompok sosial, kemandirian dan ketergantungan dalam menanggapi mayoritas bulat (Asch, 1956) dan tingkat aspirasi (Festinger, 1942; Kruglanski & Mayseless, 1990). Dalam artikelnya, ia bersumber berbagai eksperimen dengan anak-anak dan orang dewasa, namun, banyak teorinya didasarkan pada penelitian sendiri (Festinger, 1954). Setelah kerja suplemen 1966 oleh Pettigrew, Brickman, dan Wheeler dan hubungan perbandingan sosial untuk Teori Atribusi, bunga menghidupkan kembali dalam proses perbandingan. Ketika pemahaman dasar perbandingan sosial, sangat penting untuk memahami bahwa tidak ada proses berpikir yang menciptakan teori, melainkan, kompilasi percobaan, bukti-bukti sejarah dan pemikiran filosofis. Sementara Festinger adalah psikolog sosial pertama yang koin “Perbandingan Sosial” istilah, konsep umum tidak dapat diklaim secara eksklusif oleh dia (Suls & Wheeler, 2000). Padahal, asal-usul teori ini dapat tanggal kembali ke Aristoteles dan Plato. Plato berbicara tentang perbandingan pemahaman diri dan standar mutlak. Aristoteles prihatin dengan perbandingan antara orang-orang. Kemudian, filsuf seperti Kant, Marx dan Rousseau berbicara pada penalaran moral dan kesenjangan sosial. (Suls, Martin, & Wheeler, 2002).

Dalam teori awal, Festinger (1954) hipotesis beberapa hal. Pertama, ia menyatakan bahwa individu termotivasi untuk mendapatkan evaluasi yang akurat dari diri mereka sendiri dengan memeriksa pendapat mereka dan kemampuan dibandingkan dengan orang lain. Perbandingan tersebut memberikan patokan obyektif terhadap mana seorang individu dapat membandingkan diri dalam domain yang relevan, memberikan rasa validitas dan kejelasan kognitif. Ia berhipotesis bahwa orang-orang yang mirip dengan individu yang sangat baik dalam menghasilkan evaluasi akurat tentang kemampuan dan opini (Suls, Martin, & Wheeler, 2002).

Untuk ini, ia menambahkan bahwa kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan beberapa orang tertentu lainnya menurun sebagai perbedaan antara pendapat mereka dan kemampuan menjadi lebih berbeda. Ia juga memiliki hipotesis bahwa ada drive ke atas untuk mencapai kemampuan yang lebih besar (Festinger, 1954). Dia lebih lanjut berteori bahwa membandingkan diri dengan orang lain menyebabkan tekanan keseragaman. Jika perbedaan timbul antara evaluator dan kelompok pembanding ada kecenderungan untuk mengurangi perbedaan itu dengan baik mencoba untuk membujuk orang lain, atau mengubah pandangan pribadi mereka untuk mencapai keseragaman. Namun, pentingnya, relevansi dan daya tarik kepada kelompok pembanding yang mempengaruhi motivasi asli untuk perbandingan, menengahi tekanan terhadap keseragaman (Festinger, 1954).

Contoh Kasus Teori Pertukaran Sosial
Hubungan suami istri melalui sebuah ikatan pernikahan. Pola-pola perilaku dalam sebuah pernikahan, hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.
Banyak perceraian diantara pasangan suami istri terjadi karena salah satu di antara mereka merasa tidak terjadi kecocokan dengan pasangannya serta merasa dirugikan dengan ikatan pernikahan tersebut. Fenomena perceraian sangat sering kita saksikan melalui layar televisi, perceraian selebritis. Bahkan buntut dari perceraian tersebut adalah sebuah pertikaian dimana antara keduanya tidak ada yang mau mengalah. Yang awalnya mereka saling mengumbar kasih sayang tetapi setelah bercerai malah saling melempar caci maki dan kebencian

Sumber : Komunikasi pembangunan dan perubahan sosial : H. Rochajat Harun, Ir., M.Ed., Ph.D. Dr. Elvinaro Ardianto, Drs., M.Si.

teori keseimbangan heider

Teori keseimbangan Heider ini dikemukakan oleh Fritz Heider. Beliau adalah seorang psikolog yang dikenal peduli terhadap cara seseorang menata sikap terhadap orang dan benda dalam hubungannya satu sama lain di dalam struktur kognitifnya sendiri.

Ruang lingkup Teori Kesimbangan dari Heider ialah hubungan-hubungan antarpribadi. Teori ini  menjelaskan bagaimana individu-individu  sebagai suatu kelompok cenderung untuk menjalin hubungan satu sama. Tentunya salah satu cara bagaimana suatu kelompok dapat berhubungan, ialah dengan menjalin komunikasi secara terbuka. Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan intrapribadi yang berfungsi sebagai daya tarik. Menurut teori ini, berbagai perasaan positif dan negatif yg dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain.

Heider juga mengembangkan dua konsep keadaan yang terjadi di dalam Teori Keseimbangan Heider ini, antara lain :
a.       Keadaan yang seimbang
Keadaan yang seimbang menunjukkan sebuah situasi yang di dalamnya unit-unit yang ada dan sentiment-sentimen yang dialami hidup berdampingan tanpa tekanan.
b.      Keadaan yang tidak seimbang
Keadaan yang tidak seimbangan ini menimbulkan ketegangan dan membangkitkan tekanan-tekanan untuk memulihkan keseimbangan.

Paradigma yang telah dibuat oleh Heider mempunyai fokus yang berada pada 2 individu, seorang (P), objek analisis dan beberapa orang lain (O), dan objek fisik, gagasan, atau peristiwa (X). Fokus Heider adalah pada bagaimana hubungan di antara ketiga entitas ini diorganisasikan dalam benak seseorang kesukaan (L) dan hubungan unit (U) (penyebab, kepemilikan, kesamaan, dan sebagainya). Dalam paradigm Heider, keadaan seimbang muncul apabila hubungan ketiganya positif dalam segala hal atau apabila dua negative dan satu positif. Semua kombinasi lain adalah tidak seimbang.

 Contohnya adalah ada dua orang sahabat, yaitu X dan Y,  yang telah menjalin pertemanan sudah cukup lama dan cukup dekat. Ketika ada seorang teman yang lain yaitu Z menanyakan pendapat tentang X ke Y, Y mengatakan bahwa X adalah seorang sahabat yang sangat baik, penuh perhatian, dan dewasa. Kemudian ketika Z menanyakan pertanyaan yang sama kepada X, X mengatakan bahwa Y adalah seseorang yang kurang baik karena dia adalah tipe orang yang egois dan masih kekanak-kanakan.

teori disonansi kognitif

Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori dalam psikologi sosial yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.Istilah disonansi kognitif pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikologbernama Leon Festinger pada tahun 1950an.
Teori disonansi kognitif memiliki sejumlah anggapan atau asumsi dasar diantaranya adalah:
  • Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya.Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi.
  • Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi biologis.Teori ini merujuk pada fakta-fakta harus tidak konsisten secara psikologis satu dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.
  • Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur.Teori ini menekankan seseorang yang berada dalam disonansi memberikan keadaan yang tidak nyaman, sehingga ia akan melakukan tindakan untuk keluar dari ketidaknyamanan tersebut.
  • Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usahauntuk mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.
Salah satu contoh dari disonansi kognitif adalah fabel dari Aesop yang berjudul "Serigala dan Anggur".Dikisahkan seekor serigala lewat didekat sebuah pohon anggur.Serigala tersebut lapar dan tergiur akan anggur ranum itu namun tidak sanggup mengambilnya. Karena kecewa tidak bisa mendapatkan anggur, ia kemudian pergi dengan beranggapan bahwa anggur tersebut pastilah masam.
contoh : 
Referensi:
Severin, Werner J., Teori Komunikasi “Sejarah, Metode Dan Terapan Dalam Media Massa”, terj. Sugeng Hariyanto. 2005.Jakarta : Kencana

Teori Pertukaran Sosial

Teori Pertukaran Sosial adalah salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain, kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu. Setelah seseorang menentukan keseimbangannya, ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan atau tidak sama sekali.

Teori pertukaran sosial ini juga digunakan untuk menjelaskan berbagai penelitian mengenai sikap dan perilaku dalam ekonomi (Theory of Economic Behavior). Selain itu, teori ini juga digunakan dalam penelitian komunikasi, misalnya dalam konteks komunikasi interpersonal, kelompok dan organisasi. Oleh karena itu, teori pertukaran sosial ini, selain menjelaskan mengenai sikap dalam ekonomi, juga menjelaskan mengenai hubungan dalam komunikasi.

Thibault dan Kelley menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut, “asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini (Rahmat, 2002: 121).

  • Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Buat orang kaya mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang. Buat si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasi kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.
  • Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.
  • Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.
  • Tingkat perbandinganmenunjukkan  ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Bila seorang gadis pernah berhubungan dengan kawan pria dalam hubungan yang bahagia, ia akan mengukur hubungan interpersonalnya dengan kawan pria lain berdasarkan pengalamannya dengan kawan pria terdahulu. Makin bahagia ia pada hubungan interpersonal sebelumnya, makin tinggi tingkat perbandingannya, berarti makin sukar ia memperoleh hubungan interpersonal yang memuaskan.

Meskipun demikian, ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan, terjadi pada diri manusia begitu saja tanpa perlu diatur dan dihitung sedemikian rupa. Sebagai manusia yang normal, tentu dengan sendirinya bisa menentukan apakah hubungannya dengan seseorang sehat atau tidak, perlukah dilanjutkan atau tidak demi masa depan, dan ini terjadi secara alamiah, wajar, dan begitu saja.

  • Asumsi Dasar

Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam teori ini adalah:

  1. Individu yang terlibat dalan interkasi akan memaksimalkan rewards
  2. Individu memiliki akses untuk informasi mengenai sosial, ekonomi, dan aspek-aspek psikologi dari interkasi yang mengizinkan mereka untuk mempertimbangkan berbagai alternatif.
  3. Individu bersifat rasional dan memperhitungkan kemungkinan terbaik untuk bersaing dalam situasi menguntungkan.
  4. Individu berorientasi pada tujuan dalam system kompetisi bebas.
  5. Pertukaran norma budaya.

contoh:

Hubungan suami istri melalui sebuah ikatan pernikahan. Pola-pola perilaku dalam sebuah pernikahan, hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.